Neta S Pane: Ahok Harus Tutup Diskotek Crown

  • Whatsapp

20130302neta-s-paneJAKARTA, AMUNISINEWS.COM: Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW), Neta SPane meminta Ahok untuk jeli melihat pelanggaran Crown. Dan tidak musti percaya dengan laporan yang tidak akurat.

“Faktanya kan memang sudah dua kali. Pak Ahok mungkin tak paham memang tak tahu itu, karena sibuk dengan urusan penting lainnya. Jadi Pak Ahok harus diingatkan,” kata Neta S Pane, Kamis (20/10).

Neta sendiri saat diminta konfirmasinya masih berada di luar negari. Namun dia mengaku mengikuti semua pemberitaan, terlebih masalah OTT.

Neta pun menyatakan apresiasinya terhadap Timsus Paminal yang melakukan OTT terhadap anggota-anggota yang nakal. Karena hal ini untuk citra Polri yang harus terus-menerus ditingkatkan.

Neta pun mengingatkan Ahok untuk meninjau ulang izin Diskotik Crown. Atau bila perlu langsung menutupnya karena sudah melakukan pelanggaran dua kali. “Saya hanya mengingatkan. Karena sebelumnya Pak Ahok menutup diskotik Mille’S. Ya mestinya Crown juga ditutup. Jangan pilih kasih,” tutupnya.

Dua Kali

Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) seharusnya ¬†bersikap tegas dan tak piliih kasih. Jika Mille’S ditutup karena kedapatan dijadikan tempat transaksi narkoba, Diskotik Golden Crown, di kawasan Glodok, Jakarta Barat juga musti ditutup. Pasalnya, di diskotek tersebut sudah dua kali kaki tangan bandar narkoba ditangkap.

Menurut catatan, pertama RM (38), ditangkap Sat Serse Narkoba Polres Jakarta Barat, di parkiran diskotek itu..

Dari tangan RM, petugas menyita barang bukti sabu seberat 25 gram dan ekstasi 26 butir. “RM ditangkap petugas saat hendak mengambil narkoba di dalam mobilnya untuk diedarkan di dalam diskotik itu,” kata Kasubbag Humas Polres Metro Jakarta Barat, Kompol Herru Julianto ketika itu.

Heru menjelaskan, penangkapan tersebut berawal dari kecurigaan salah satu petugas yang melihat RM sedang sibuk melakukan sesuatu di dalam mobilnya yang terparkir di lantai 7 Diskotik Crown. Kemudian, petugas segera menghampiri dan menggeledah RM.

“Saat digeledah petugas menemukan tiga plastik narkoba jenis sabu seberat 25 gram dan 26 butir ekstasi yang disembunyikan di dalam jok bangku mobilnya,” ujar dia.

Setelah dilakukan pemeriksaan, RM mengaku akan menjual narkoba tersebut kepada para pengunjung Diskotik Crown.

Hal serupa juga terjadi kembali. Namun kasus kedua ini terkuak melalui adanya Operasi Tangkap Tangan (OTT), yang dilakukan Timsus Paminal Polda Metro Jaya terhadap Kasubnit Reserse Kriminal Polsek Metro Gambir, Iptu S.

Iptu S di tangkap bermula adanya informasi bahwa Subnit 1 Reskrim Polsek Metro Gambir menangkap Anto alias Awi di diskotek Crown, Jakarta Barat, Senin (17/10) malam.

Dia diduga menyalahgunakan narkotika. Dari tangan Anto ditemukan 20 butir ekstasi. Kasus ini menjadi besar karena oknum polisi yang merupakan anggota unit Reserse Kriminal Polsek Metro Gambir, Iptu S, diduga melakukan pemerasan terhadap Anto.

Tim khusus mendapat informasi bahwa Anto akan dibebaskan jika menyerahkan uang sebesar Rp 300 juta. Namun pihak keluarga Anto hanya mempunyai uang sebesar Rp 100 juta.

Hingga akhirnya, pada Selasa (18/10) sekitar pukul 19.00 WIB, Anto dilepas tanpa dilakukan pemeriksaan secara prosedural oleh Reskrim Polsek Metro Gambir.

Hal itu dilakukan setelah menerima uang dari keluarga Anto sebesar Rp 97 juta yang diterima langsung oleh Iptu S.

“Atas penyalahgunaan wewenang itu, tim khusus melakukan OTT dengan mengamankan barang bukti uang sebesar Rp 97 juta di ruangan Subnit 1 Unit Reskrim Polsek Metro Gambir ,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Awi Setiyono.

Nah, dari pengakuan sementara Anto diketahui bahwa ekstasi sebanyak 20 butir itu akan dijual di diskotik Crown. Sebab sangat tidak mungkin ekstasi sebanyak itu akan digunakannya sendiri.

Hasil investigasi Beritabuana.co, pada minggu lalu, diketahui harga ekstasi di diskotik Crown Rp 450 ribu. Dan ekstasi itu bisa dipesan melalui orang tertentu. Bahkan bagi pengunjung tetap bisa pesan melalui pramusaji di sana.

Dengan dua kasus serupa dan fakta itu, sudah sangat pantas diskotik Crown ditutup. Terlebih Gubernur DKI Jakarta, Ahok, Rabu (19/10), sudah memastikan bahwa tidak boleh ada transaksi narkoba di dalam diskotek .

Ahok menegaskan akan menutup diskotek yang terletak di Jakarta Barat itu setelah dua kali tertangkap narkoba.

Sayangnya Ahok lupa. Dia menganggap baru sekali. Hal ini diketahui dari pernyataannya, “udah ketemu sekali ya Crown? Tinggal tunggu sekali lagi aja, bagus, dua kali tertangkap narkoba, (diskotek) Crown tutup.

Ironisnya, meski Ahok, selaku Gubernur DKI Jakarta sudah jelas-jelas menyatakan kasus Anto, baru sekali pihak Crown melakukan pelanggaran, pihak Crown dibantu Humas Pariwisata, tetap berusaha melakukan klarifikasi bahwa penangkapan Anto di luar area Crown. Padahal jelas-jelas rilis Paminal menyebut ekstasi itu akan diedarkan di diskotik yang dikelola oleh PPN. (war/tim)

Pos terkait