NUSRON WAHID, KOAR-KOAR CARI MUKA,.?

  • Whatsapp

DITOLAK JADI KETUA TIMSES AHOK – JAROT

Nusron WahidAMUNISINEWS.COM, JAKARTA -Tiga partai koalisi pendukung petahana Ahok-Djarot, di luar Golkar, yakni Hanura, Nasdem dan PDI Perjuangan diduga menolak Nusron Wahid sebagai Ketua Tim Sukses pasangan Pilkada Jakarta 2017. Meski begitu, tokoh muda Golkar ini mati-matian bela Ahok terkait pernyataan Surat Al Maidah ayat 51 yang dianggap melecehkan agama. Pembelaan itu lewat komentar di beberapa media masa, dan di acara diskusi TVOne. Koar-koarnya seakan kurang menghormati ulama.
Karena itu, Nusron pun dihujat sebagai manusia yang belum paham agama Islam. Sepertinya Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) nggak kenal putus asa, sekalipun tiga partai koalisi pasangan Pilkada DKI Jakarta 2017, Ahok-Djarot, menolak mentah-mentah jadi koordinator tim sukses.

Dia mati-matian bela Ahok ketika Gubernur DKI Jakarta ini dihujat publik terkait pernyataannya mengenai Al Quran Surat Al Maidah ayat 51. Nusron dalam keterangan persnya mengaku sudah melihat video rekaman Ahok secara utuh selama satu jam itu.
Menurut dia, tidak ada satu pun rangkaian kalimat yang menyatakan Ahok melakukan penistaan terhadap Al Quran. Sebaliknya, lanjut dia, Ahok tengah memberikan pendidikan kepada rakyat untuk memilih secara cerdas calon gubernur DKI Jakarta. “Jadi, yang dituju atau dimaksud Ahok adalah orang yang membohongi. Bukan berarti ayat Al Maidah yang bohong,” papar Nusron dalam keterangan persnya, Jumat (7/10).

Di dalam forum diskusi di Indonesia Lawyer Club (ILC) yang ditayangkan TVOne, Selasa (11/10), Nusron dengan lantangnya menegaskan, bahwa yang paling berhak menafsir Al Quran adalah Allah dan Rasulnya. Sementara Majelis Ulama Indonesia (MUI) tidak sah menafsir Al Quran.
“Namanya Al-Quran, yang paling sah untuk menafsirkan, yang paling tahu tentang Al-Qur’an itu sendiri adalah Allah Subhanahu wata’ala dan rosul. Bukan Majelis Ulama Indonesia, bukan Ahmad Dhani, bukan Daniel Simanjuntak, bukan juga saya, bukan itu” papar Nusron dalam acara ILC.
Lebih lanjut Nusron menganalogikan teks puisi yang dibuat oleh Taufiq Ismail. “Yang paling tahu teks ya orang yang membuat teks itu sendiri, yang paling tau makna puisinya Taufiq Ismail ya Taufiq Ismail” katanya.
Dan berkaitan dengan pernyataan Ahok, Nusron menegaskan bahwa hanya Ahok sendiri yang mengetahui maksud dari pernyataanya saat berbicara di hadapan warga Kepulauan Seribu, pihak lain tidak berhak menafsirkan. “yang paling tau tentang yang disampaikan Ahok di pulau seribu, ya Ahok, bukan orang lain” ujarnya Nusron.
Karuan saja, koar-koarnya itu dikecam banyak pihak. Melihat tayangan acara itu, beberapa warga Jakarta yang sempat dimintai komentarnya mengatakan, Nusron bukan saja liberal, tapi karakter liberalismenya dibangun di atas karakter yang tidak berakhlak. Kata-katanya kasar, mimik wajah dengan mata terbelalak sebagai bentuk emosi yang tidak terkontrol. Gambaran itu menunjukkan siapa Nusron sebenarnya.
“Ini tokoh berbahaya. Bela orang main hantam kromo. Cari muka, tapi kurang etis. Untung dia nggak jadi ketua tim sukses Ahok. Kalau jadi, Ahok-Djarot bukannya menang di Pilkada nanti, malah kalah,” kata Akiong, warga Pademangan, Jakarta Utara, yang mengaku simpatisan Ahok.
Senada dikatakan Gita Lubis, warga Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Menurut dia, pernyataan Nusron tentang yang berhak memahami Al Quran hanya Allah dan Rasul-Nya, ini sangat paradoks dari posisi keagamaan Nusron. Apalagi dikatakan, bahwa teks-teks agama harus dengan logika. “Yang menentukan kebenaran adalah logika manusia, seperti pada posisi dasar liberalisme. Saya curiga, jangan-jangan orang ini liberal. Kalau memang dia (Nusron) benar sebagai kader NU, sikapnya kebablasan dan bukan karakater NU yang selalu menghormati para ulama. Terlebih ketika kita lihat Nusron berteriak-teriak sambil menunjuk- nunjuk ulama, itukan kurang ajar. Nggak ada hormatnya sama para guru,” kata Lubis.
Sementara itu, tanggapan yang tak kalah sengitnya datang dari sejumlah ulama dan kader NU di Jawa Barat. Pernyataan Nusron telah membuat ketersinggungan ummat Islam, dan para ulama di seluruh Indonesia..
“Kami sebagai warga NU sangat menyesalkan pernyataan itu, kenapa ya dia begitu. Saya tak percaya dia warga NU, mungkin sudah ke makan tipu daya setan,” kata Enjang Badruzaman, warga Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, kepada wartawan.

Begitu juga dikatakan H Piping, ulama dari Panjalu. Menurut dia, orang yang menganggap Pancasila lebih tinggi dari Al Quran adalah orang gila dan sesat. “Menganggap Pancasila lebih tinggi dari Al Qur’an, adalah orang gila dan sesat,” tegasnya kepada wartawan.
Tudingan “gila” bagi Nusron Wahid juga dikemukakan Kiai Buchori, Ketua MUI Kabupaten Sampang. Sementara ulama Madura yang juga ketua PP GP Ansor garis lurus KH. Jakfar Shodiq, mengaku sangat prihatin dengan pernyataan oknum elit PBNU seperti Nusron Wahid.

KH Sholahuddin Wahid
KH  Sholahuddin Wahid – foto, istimewa

Bukan Keluarga Wahid
Khawatir akan menjadi rusaknya nama Wahid lantaran ulah Nusron Wahid, putra KH Wahid Hasyim yang juga cucu Hadratus Syekh KH Hasyim Asyari, KH Sholahuddin Wahid (Gus Sholah) buru-buru menegaskan, bahwa Nusron Wahid bukanlah bagian dari keluarga besar Hadratus Syekh KH Hasyim Asyari atau Wahid Hasyim.

Tidak ada hubungan darah sedikitpun. Penjelasan Gus Sholah ini untuk mengingatkan, bahwa sejauh ini tidak sedikit masyarakat menduga kalau Nusron Wahid bagian dari keluarga Hadratus Syekh lantaran nama belakangnya menggunakan ‘Wahid’.
“Namanya memang Nusron Wahid, tapi tidak ada hubungan darah dengan keluarga Wahid Hasyim,” katanya, sebagaimana dikutip Republika.co.id, Kamis (13/10).

Dia juga membantah kalau keluarga besar KH Wahid Hasyim mendesak Nusron tidak menggunakan nama belakang Wahid.
“Tidak ada desakan seperti itu. Dia (Nusron) berhak pakai nama apa pun yang dia sukai,” kata Gus Shola.

 

 

 

Oleh: *tim/h. sinano esha

Pos terkait