Pemaknaan Pengemasan, Pemasaran Karya Seni

  • Whatsapp

122311_chrysnandadlfacebook

Oleh Kombes Chrysnanda Dwi Laksana

AMUNISINEWS.COM, JAKARTA – Seniman sebagai sosok pekerja yang terus berkarya menghasilkan karya-2 seni. Hidup para seniman kadang tidak sehebat karya-karyanya. Untuk bertahan hidup saja kadang harus menjual barang lainya atau mencari pekerjaan lain.

Karya-karya seniman seringkali tidak dihargai dan dipandang sebelah mata oleh bangsanya, tertutama para penguasanya. Seni ini juga bagian dari politik, lihat saja di negara-negara maju, karya seni diapresiasi setinggi tingginya.

Dimaknai, dikemas, dibahas dimana mana, di publikasikan dan dimarketingkan. Lahan untuk memamerkan, mengekspresikan jati dirinya ada di mana-mana, balai- lelang untk memberi kehidupan+ menghidupi para seniman, para kurator yang mampu memanusia kan para seniman, galeri-galeri yang mampu memarketingkan bukan sekedar menjadi tengkulak, para kolektor akan memajang dan memberi ruang apresiasi bukan sekedar kolekdol (mengkoleksi terus didol).

Para pemimpin yang menyadari bahwa dirinya sebagai ikon + pilar pembangunan peradaban akan menggunakan naluri artistik + estetiknya dalam menata keteraturan. Kebijakan2 nya akan lebih peduli akan kemanusiaan + mampu memanusiakan manusia untuk hidup yang terus meningkat kualitasnya.

Citra positif akan disandangnya dan penghargaan akan seni menjadi pilar kesuksesanya dalam membangun peradaban + meningkatkan kualitas hidup.

Apresiasi seni dlm perpolitikan + protokoler kenegaraan

Poster potret kepala2 negara KTT Asia Afrika dipasang dengan model pop art ikut memeriahkan suasana. Banyak pengunjung yang mengambil posisi sebagai latar belakang untuk berfoto. Model potret memang terus digemari dari masa ke masa.

Monalisa karya besar Leonardo da vinci merupakan lukisan potret, lukisan potret raja-2 karya pelukis renaisance menjadi maha karya. Berbagai pose potret diri Rembrand van Rijn, juga potret diri van gogh, dan banyak pelukis 2 realis hingga ekspresif seperti Affandi pun menjadikan potret sebagai model / gaya lukisannya.

Di era pop art Andy Wahrol mempelopori melukis potret sebagai model lukisannya. Di era digital model lukisan potret terus berkembang menjadi model idola dari para pelukis + designer. Model yang menonjol suatu karya dr Wedha (yg bernama asli Abdul Rasyid) sebagai ilustrator berbagai produk buku + majalah terbitan gramedia.

Wedha menamainya dengan model WPAP (wedha pop art potrait), yang banyak dijadikan model lukisan baik secara manual / secara design grafis. Model design grafis akan lebih mudah dan lebih murah serta lebih bagus warna + tingkat kemiripanya. Seni walaupun telah didukung teknologi namun rasa/ sense sangat menentukan.

Affandi melukis poster perjuang yang diisi kalimat ajakan oleh Chairil Anwar yang berjudul : ” boeng ajo boeng” menjadi pembakar semangat perjuangan. Patung2 di Jakarta era Bung Karno menjadi ikon perjuangan sekaligus pendidikan seni kepada warganya.

Indonesia memiliki banyak sekali seniman di segala bidang, sayangnya tidak semua memiliki mentor atau wadah untuk nampilkan karyanya. Tidak banyak pemimpin yang bisa menikmati atau peduli akan karya seni anak bangsa. Karena minimnya apresiasi + lemahnya dukungan political will.

Di era globalisasi dengan majunya teknologi akan memudahkan memamerkan karya dan menyebarkan ke mana saja sebagai edukasi + pengenalan karya para seniman di semua lini. Internet bisa menjadi jembatan / interconecting di semua lini.

Pemaknaan: arti sama kelas berbeda?

Memaknai sesuatu fenomena berdampak pada kualitas/ grade yang berbeda. Pemaknaan memberikan sesuatu yang berbeda dan bisa juga mengangkat harkat + martabat.

Sebagai contoh saja nama makanan, dari bahasa lokal ke bahasa /istilah internasional, ini akan menunjukan pemahaman+ tingkat penghargaan akan sesuatu. Bahkan produk2 nasionalpun diiklankan agar digunakan.

Pemaknaan jg berkaitan dg branding dan siapa yg memberi brand tsb. Brand merupakan bagian dr pemaknaan yg menunjukan suatu apresiasi dan penemrimaan dr kalangan internal maupun eksternal.

Para pejabat/ penguasa semestinya mampu memberi pemaknaan/ brand shg apa yg dipimpinya/ yg mjd binaanya meningkat harkat martabat + derajatnya.

Sebagai contoh saja, batu bacan yang dijadikan gift oleh presiden Sby kepada Obama mengangkat harkat + nilai batu bacan sehingga bisa menjadi booming. Sayangnya apa yang terjadi sering kebalikanya yang berkuasa/ yang menguasai justru menjadi benalu karena produk-2 hutang budi/ memang tidak berkompetensi sehingga tidak mampu / tidak tahu pemaknaan apa yang akan diberikan.

Pemaknaan bagian dari marketing dengan memberi brand yang akan menunjukan :

  1. Keistimewaan,
  2. Keunggulan,
  3.  Keunikan,
  4.  Kompetensi,
  5.  Kualitas,
  6.  Tingkat apresiasi,
  7.   Penerimaan+pengakuan secara luas dsb.

    Memaknai salah satu tugas +tanggung jwab dari pejabat /pimpinan di samping itu juga mengemas + memasarkannya

Seni sebagai tanda kebangkitan fajar budi

Menjadi bangsa pembelajar adalah awal dari kemajuan dan awal mampu bertahan, mencegah, memperbaiki, bahkan membangun kemanusiaan. Seni membangkitkan suatu budi pekerti manusia, mulai dari komunikasi, transportasi, sistem2 pengamanan, sistem 2 sosial pun di design dengan seni yang bervariasi dari model tradisional hingga seni modern. Model2 keteraturan sosialpun dapat dibuat dalam model2 seni yang beragam.

Fajar budi merupakan suatu kebangkitan atas kesadaran diri baik secara perorangan, kelompok maupun dalam masyarakat luas untuk mampu membangun kesadaran + mengimplementasikan seni berteknologi. Kesadaran untuk membangkitkan, memberdayakan, menemukan, menguatkan dalam berbagai sendi kehidupan sosial.

Konflik yang berupa pertikaian antar sesama manusia yang. Dengan berbagai dalih dari yang mengatasnamakan Tuhan, kebenaran dan berbagai dalih lainya telah menimbulkan korban + mematikan produktifitas.

Konflik timbul akibat keserakahan dan kelekatan atas ego untuk menguasai sumber daya melalui pendominasian dengan cara2 yang tidak fair. Seni dapat digunakan sebagai pembangun fajar budi untuk mencerahkan dan menjadikan suasana yang harmoni dan saling bersinergi.

Art therapy : seni dalam penataan keteraturan sosial

Keteraturan sosial bukan semata mata tertib rapi tetapi juga memerlukan seni, sehingga apa yang ada dalam hidup + kehidupan akan semakin bermakna. Kemampuan memberi makna akan mengangkat harkat + martabat sesuatu. Dari pemberian makna maka akan dapat dikemas dan di marketingkan.

Keteraturan sosial merupakan suatu suasana fisik + psikis yang mendukung pada upaya2 peningkatan kualitas hidup masyarakat. Seni menata akan memberikan suatu nilai yang dapat diapresiasi dan mengedukasi. Kemampuan packing / mengemas akan menghasilkan suatu produk yang dapat di marketingkan sebagai produk unggulan.

Keteraturan sosial tidak hanya berdiri sendiri melainkan akan terkait dengan apa, bagaimana + mengapa keteraturan sosial itu terjadi dan dapat fungsional. Keteraturan sosial yang dinamis, dan memiliki cita rasa seni yang tinggi akan mampu mengedukasi dan memberi dampak bagaimana hidup + kehidupan manusia semakin bermakna dan membawa hidup + kehidpan yang semakin lebih baik. Keteraturan sosial merupakan suatu kebutuhan bagi masyarakat untuk dapat menghasilkan produksi yang dapat digunakan untuk hidup tumbuh + berkembang.

Seni sering dikecilkan maknanya / dipahami secara sempit sebagai karya cipta/ benda2 ciptaan semata. Padahal seni sebagai refleksi atas kehdupan dapat diimplementasikan dalam berbagai lini kehidupan.

Kepemimpinan, administrasi, operasional bahkan yg mjd capacity building pun memerlukan seni. Seni merupakan terapi kesehatan jiwa yg dpt berkaitan dg kebangaan, apresiasi, interpretasi hingga penegakkan hukum sekalipun.

Arti sebuah nama :Menemukan dan menunjukan?

William Shakespeare,mengatakan ““What’s in a name? That which we call a rose by any other name would smell as sweet.” (Apalah arti sebuah nama? Andaikata kamu memberikan nama lain untuk bunga mawar, ia tetap akan berbau wangi).

Benarkah nama tidak penting?
Tatkala nama tidak diberikan bagamana kita akan memanggil, menyebut, untuk menunjukan ataupun membahasnya tentu akan mengalami kesulitan bahkan bisa jd salah persepsi. Nama yang sama dalam pengucapan yang berbeda bisa bermakna lain. Nama tidak hanya diberikan kepada benda, orang, tempat, kegiatan atau sesuatu yang sudah ada dan dapat ditangkap panca indera saja, nama patut diberikan juga bagi sesuatu yang abstrak, yang merupakan konsep/teori.

Bung Karno proklamator, pemimpin besar revolusi, penyambung lidah rakyat dalam berbagai pidatonya selalu ada namanya dan menyatakan konsepsi2 dari bangsa Indonesia yang menginspirasi dunia.

Politikus, ilmuwan, pakar2 bangsa Indonesia sekarang ini banyak yang lebih suka / lebih bangga memakai atau menyebutkan nama / pendapat dari pakar 2 asing yang telah ternama daripada mencari / menemukan + memberi nama atas pemikiranya / konsepsinya/ teorinya dengan nomenklatur baru.

Memang dalam pemikiran2/teori2 dari barat memang sangat lengkap dan hampir semua lini ada + dikuasainya. Tatkala akan membahas sesuatu memang baik + benar mengacu teori orang namun setelah dibahas/ dikonstruksi mestinya akan ditemukan konsepsi baru/teori baru disinilah kita tidak lagi mampu memberi nama yang akan menginspirasi orang lain. Atau setidaknya memberi / menyumbagkan pemikiran baru bagi dunia yang ditekuninya.

Benarkah kita bangsa yang konsumtif? Kita lihat saja dalam kehidupan sehari hari seberapa banyak buatan bangsa kita, berapa banyak barang2 impor dari negara asing.

Ilustrasi karya seni

Memberi nama dan memaknai dari pemikiran 2 baru sebagai pemikir, penemu akan membiasakan kita sebagai anak bangsa untuk bangga dan menghasilkan produk2 bangsa sendiri ketimbang harus mengimpornya/ membangga2 kan demi prestise/ kebanggaan2 semu.

Seni sebagai theraphy bisa dalam berbagai aliran seni. Seni memberi ruang +kesempatan untuk mengeksresikan penangkapan bagi jiwa + hati yang tersembunyi sebagai refleksi atas kehidupannya akan menghasilkan karya seni. Ekspresi pada karya seni akan mampu menyalurkan perasaan jiwa + hati.

Seni bukanlah semata mata mimesis/ meniru / memasukan orang , alam , benda, hewan , barang ke dalam kanvas / media seni lainnya, melainkan juga merefleksikan atas pikiran, perasaan + suasana hati + kejiwaan seseorang. Disinilah terapinya, senirupa menjadikan saluran, wadah ekspresi dan tatkala tertuang/terungkapkan dengan baik maka karya itu akan bisa digunakan sebagai media untuk membaca jiwanya.

Benar apa kata bapak seni rupa modern Indonesia S Soedjojono yang mengatakan seni rupa adalah jiwa yang nampak. Menggambar, melukis adalah ekspresi jiwa bukan sekedar bermain main dan merekayasa untuk pematut matutan, karena seni tidak selalu berkaitan dengan keindahan.

Bahkan bisa yg bertentangan dan ekstrim sekalipun. Seni rupa tidak harus dengan media kanvas/ kertas tetapi apa saja bisa dibuatnya untuk bisa mengekspresikan apa saja bisa dibuatnya. Seni memang perpaduan otak, otot, jiwa + hati kadar ekspresi inilah yang tatkala mampu membuat orang lain greng ini yang luar biasa.

Seni dalam terapi tidak membahas baik buruk, melainkan bagaimana mampu menjadi penyaluran eksprsi jiwa + hati dalam sebuah karya. Karya seni merupakan ikon keabadian dan manusialah yang mampu membuatnya abadi dalam berbagai era dan tingkatan kehidupan. Ars longa vita brevis. /hendra usmaya

 

Pos terkait