Pemerkosa dan Pembunuh Anak Kandung Divonis Seumur Hidup, JPU : Kami Pasti Banding

  • Whatsapp

terdakwa-firmanPANGKALPINANG, AMUNISINEWS.COM – Terdakwa Firman bin Bukhori sang ayah kandung  terdakwa pembunuh serta pemerkosa 2 anak kandung oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Pangkalpinang dihukum seumur hidup pada Senin (10/10/2016) di Pangkalpinang.

Firman dinyatakan oleh hakim  bersalah dan divonis dengan hukuman seumur hidup oleh majelis hakim yang diketuai Marshal Tarigan dengan anggota Maju Purba dan Corry Oktarina.  Vonis ini lebih ringan dari tuntutan hukuman mati.

Bagi majelis hakim hal yang meringankan  terdakwa dimana terdakwa berterus terang, terdakwa menyesali perbuatanya. Dan terdakwa masih mempunyai anak yang tinggal satu-satunya dan seorang istri yang sepertinya masih mau memaafkan terdakwa. Sementara yang memberatkan  perbuatan terdakwa dinilai sadis dan tidak berprikemanusiaan.

Perbuatan terdakwa membuat trauma dan duka mendalam bagi anak dan istri.  Perbuatan terdakwa bertentangan dengan program pemerintah dalam memberantas semakin meningkatnya tindak kekerasan dan eksploitasi terhadap anak.

Majelis menjerat terdakwa dengan dakwaan ke 1 primair pasal 340 KUHP ke 2 pasal 80 ayat (4) undang-undang RI nomor 35 tahun 2014 tentang perubahan atas undang-undang RI nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak jo pasal 80 ayat 3 undang-undang RI nomor 35 tahun 2002 tentang perlindungan anak. Jo pasal 81 ayat (1) UU RI nomor 35 tahun 2014 tentang perubahan atas UU RI nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak.

Jaksa penuntut umum dari Kejaksaan Negeri Pangkalpinang, Mauliana Rachmawati mengaku keberatan dengan putusan seumur hidup tersebut. Pihaknya pasti banding namun terlebih dahulu harus melaporkan pada pimpinan. “Sebetulnya dari sisi pandangan hukum sudah sama dengan majelis. Hanya pada hukuman badan saja berbeda,” sebutnya saat dikonfirmasi wartawan Senin Siang (10/10) selesai sidang di Pengadilan Tipikor Pangkalpinang.

“Kita laporkan dulu pada pimpinan soal putusan ini (seumur hidup.red). Tetapi kita pasti banding ke Pengadilan Tinggi (PT). Semoga di sana (PT) memiliki pandangan yang sama dengan jaksa penuntut yang mengharapkan hukuman mati,” ucapnya.

Diketahui sebelumnya  tuntutan jaksa penuntut sendiri  menyatakan terbukti Firman  telah membunuh 2 anak kandungnya:  Fauziah Dholifah (10) dan Fazril Ilham (4)  pada 10 Februari 2016 sekitar pukul 01 WIB. Tragedi pilu itu terjadi di rumah mereka sendiri di Jl Depati Hamzah, Gg Jamrud RT 09 Semabung.

Adapun alasan kuat bagi jaksa penuntut atas hukuman mati tersebut terdakwa melakukan kekerasan yang menyebabkan 2 anak kandungnya  meninggal dunia. Perbuatan terdakwa dinilai telah melanggar norma agama dan kesusilaan.

“Akibat perbuatan terdakwa salah satunya menjadi perhatian dari Negara, pemerintah dan presiden yang saat ini semakin meningkat dalam hal tingkat kekerasan terhadap anak. Sehingga perlu diberi hukuman yang seberat-beratnya yang membuat terdakwa menjadi jera.

Sementara bagi jaksa juga tak ada satupun yang meringankan bagi terdakwa.   Menyatakan terdakwa Firman bin Bukhori telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana  dengan sengaja dan dengan rencana dan terlebih dahulu dengan merampas nyawa orang lain, dan melakukan kekerasan terhadap anak hingga yang mengakibatkan anak mati yang dilakukan orang tua dan dengan kekerasan memaksa melakukan persetubuhan terhadap anak yang dilakukan oleh orang tua sendiri.

Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa Firman bin Bukori berupa pidana mati dengan perintah terdakwa ditahan.

Kronologis kejadian sendiri bermula pada malam terkutuk itu terdakwa Firman memanggil korban Fauziah Dholifah untuk dibukakan pintu kamar. Setelah dibuka oleh korban terdakwa masuk dan baring disamping korban.

Saat itu juga korban melakukan aksi bejat dan terkutuknya. Karena kesakitan korban akhirnya meronta-ronta. Dalam dakwaan itu dijelaskan beberapa kali korban sempat menjerit dengan menyebut “aduh” serta memanggil “mama”. Lalu karena panik akhirnya pelaku melakukan kekerasan fisik yang lain pada korban. Di antaranya memukul sebanyak 2 kali di leher sebelah kiri korban. Selain itu membekap mulut korban  hingga akhirnya tak sadarkan diri.

Perlakuan bejat terdakwa ternyata diketahui oleh istrinya yakni, Rohiyatun als Srik. Namun terdakwa sempat mengancam dengan mengatakan, “diamlah ka kelak ku anok ka (diamlah nanti saya apa-apain kamu).  Saat itu juga terdakwa sempat memukul Srik hingga terjatuh dan tak sadarkan diri.
Saat bersamaan juga korban Fazril Ilham  keluar dari kamar lalu menjerit dan memanggil “mama”. Saat itu juga terdakwa membekap korban  Fazril Ilham hingga tak sadarkan diri. Hingga akhirnya ikut meninggal dunia.

Dari visum  et repertum yang disampaikan oleh jaksa nomor 02/VRJ/Februari/2016 Bidokes, tanggal 11 Februari 2016 yang ditandatangani oleh dr. Mansuri merincikan sebagai berikut: pada  kelamin korban Fauziah Dholifah di bibir kecil terdapat  luka lecet. Selaput dara terdapat robekan pada arah jam 12 sampai jam 6. Liang vagina terdapat lecet dan ditemukan resapan darah warna merah kebiruan.

Di rahim   didapatkan resapan darah merah kebiruan dan tidak ditemukan tanda-tanda kehamilan. Di indung telur didapatkan resapan darah berwarna merah kebiruan. Kekerasan yang lain juga disampaikan dalam hasil visum berupa luka memar di kepala dan dada sebelah kiri, resapan darah di daerah gusi dan bibir atas. Sementara kematian para  korban sendiri disampaikan dalam visum tersebut akibat pembekapan sehingga mati lepas.(man)

 

Pos terkait