Pemkot Surabaya Lakukan Terapi Secara Berkala bagi Bayi Stunting di RSUD

Oleh: Irman

SURABAYA-AMUNISINEWS.CO.ID-Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya terus berupaya untuk melakukan pencegahan dan penanganan terhadap bayi stunting di Kota Pahlawan. Sebab, faktor kemunculan atau penyebab stunting, tidak hanya melalui faktor eksternal, melainkan juga terdapat faktor internal, yakni pada proses pengasuhan anak.

Bacaan Lainnya

Untuk memastikan pendampingan terhadap keluarga bayi stunting, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi didampingi oleh Ketua Tim Penggerak (TP) PKK Kota Surabaya Rini Indriyani langsung berkeliling di beberapa kecamatan setiap hari. Hal ini dilakukan untuk memantau secara langsung, terkait program mengatasi bayi stunting di Kota Surabaya.

Saat berkeliling di Kelurahan Wonokusumo Kecamatan Semampir Kota Surabaya, Wali Kota Eri menemui tiga balita stunting. Masing-masing balita tersebut, terindikasi memiliki penyakit bawaan, yang semula tidak diketahui oleh orang tuanya, hingga menyebabkan bayi tersebut menjadi stunting.

“Pendampingan awal yang dilakukan adalah memastikan kesehatan ibu hingga melahirkan. Setelah melahirkan, kebanyakan ibu ini tidak mengetahui gejala awal yang menimpa anaknya. Akhirnya, anak tersebut ada yang terserang hipotiroid, ada yang memiliki riwayat kejang, hingga ada yang terkena epilepsi,” ungkap Wali Kota Eri, usai membagikan bantuan dan pengecekan stunting, Kamis (30/12/2021).

Oleh karena itu , Wali Kota Eri menjelaskan, untuk mencapai zero stunting atau nol kasus stunting di Kota Surabaya, dia meminta setiap orang tua harus proaktif melaporkan kondisi kesehatan anaknya, kepada pendamping kesehatan atau kader kesehatan di kelurahan dan kecamatan setempat.

“Ada yang tidak terbuka, ada juga yang saat dikunjungi tapi pulang kampung. Hal ini kemudian menjadi tantangan untuk para pendamping kesehatan maupun kader kesehatan, intinya kita juga harus sabar dan telaten,” jelas dia.

Sebagai bentuk respon cepat, para pendamping kesehatan dan kader kesehatan langsung melaporkan temuan bayi stunting ke puskesmas setempat untuk mendapat penanganan. Hasilnya, para bayi stunting tersebut langsung mendapat tindakan, dengan pelaksanaan terapi secara berkala di RSUD (Rumah Sakit Umum Daerah) Dr. Soetomo dan RSUD Dr. Soewandi.

“Orang tua juga harus telaten, Insya Allah nanti pasti bisa sembuh. Maka harus rutin melakukan terapi, jika kebingungan akan didampingi oleh pendamping kesehatan atau para kader untuk dibawa ke poli tumbuh kembang,” terang dia.

Sementara itu, Pendamping Kesehatan dari Puskesmas Wonokusumo, Sularsi menjelaskan, bahwa ibu dari ketiga bayi stunting tersebut sebelumnya dinyatakan sehat. Deteksi awal yang dilakukan adalah dengan pengecekan dan pendampingan sejak ibu hamil, apakah ibu tersebut normal atau mengalami kekurangan energi kronis (KEK).

“Contoh tiga balita itu, berawal dari demam dan diare dalam kurun waktu yang lama, hingga mengalami kejang. Kebanyakan penduduk disini belum sadar dengan kesehatan, maka kita datangi rumah ke rumah untuk diberikan penjelasan dan sosialisasi,” jelas dia.

Sulastri menyebut, bahwa masih banyak orang tua yang belum paham dalam proses atau pola mengasuh anak usai melahirkan. Dia berharap, para orang tua atau para ibu muda bisa langsung proaktif untuk melaporkan kondisi kesehatan anaknya.

“Kita akan terus berupaya untuk mendekatkan diri kepada para ibu balita, supaya bisa mencegah kemunculan bayi stunting,” kata dia.

Ditemui di tempat yang sama, salah satu orang tua balita stunting, Alfiatul Jamila menyampaikan ucapan terima kasih kepada Wali Kota Eri, karena telah memberikan bantuan secara berkala untuk proses kesembuhan anaknya. “Terima kasih bapak Walikota Surabaya (Eri Cahyadi) sudah memperhatikan gizi makanan dan vitamin untuk anak saya. Alhamdulillah, anak saya bisa memulai terapi dan segera sembuh,” pungkasnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.