Pesantren Pelopor Pendidikan Di Indonesia Yang Dilupakan

  • Whatsapp

IMG-20170715-WA0005

JAKARTA, AMUNISINEWS.COM-Bangsa yang besar adalah Bangsa yang menghormati para pahlawannya, itulah pepatah bijak yang sejatinya dijunjung tinggi oleh siapapun yang memimpin negeri ini.

Tak bisa dipungkiri, Bangsa Indonesia diperjuangkan oleh santri dan Ulama, Indonesia tidak memiliki pejuang kecuali Santri dan Ulama, berikut deretan Ulama dan Santri yang telah mempertaruhkan jiwa raganya untuk Indonesia: Pangeran Diponegoro, Cut Nyak Dien, Cik Di Tiro, Tuanku Imam Bonjol dan Panglima Besar Jenderal Soedirman, mereka inilah yang membuat perlawanan sengit terhadap Para Penjajah melalui pesantren – pesantren.

Kala itu, pesantren dijadikan pusat pendidikan Ilmu agama, politik, ekonomi dan strategi berperang, dari pesantrenlah lahir para pejuang dan Mujahid yang memperjuangkan Indonesia ini. Jadi ironis jika ada issu yang mengatakan, umat Islam hendak “Makar”, ini tudingan yang sangat biadab!

Melupakan jasa Santri dan Ulama sama saja melupakan sejarah, melupakan sejarah sama saja menghancurkan dan mengkerdilkan Bangsa ini.

Masih ingatkah bagaimana Belanda masuk dengan serikat dagangnya (VOC) untuk menjajah Indonesia, merampok kekayaan Indonesia ?
Siapa yang menghalau Belanda kala itu? Siapa lagi kalau bukan Para Ulama dan Santri.

Sejarah Ulama Memperjuangkan Indonesia

Pada masa pra kemerdekaan, Organisasi Sarekat Dagang Islam (SDI) yang pada awalnya merupakan perkumpulan pedagang-pedagang Islam menjadi pusat pergerakan melawan Belanda.

Organisasi ini dirintis oleh Haji Samanhudi di Surakarta pada 16 Oktober 1905, jauh sebelum Republik Indonesia meredeka, dengan tujuan awal untuk menghimpun para pedagang pribumi Muslim (khususnya pedagang batik) agar dapat bersaing dengan pedagang-pedagang besar Tionghoa. Pada saat itu, pedagang-pedagang keturunan Tionghoa tersebut telah lebih maju usahanya dan memiliki hak dan status yang lebih tinggi daripada penduduk Hindia Belanda lainnya.

Kebijakan yang sengaja diciptakan oleh pemerintah Hindia-Belanda tersebut kemudian menimbulkan perubahan sosial karena timbulnya kesadaran di antara kaum pribumi yang biasa disebut sebagai Inlanders.

SDI merupakan organisasi ekonomi yang berdasarkan pada aqidah Islam dan perekonomian rakyat sebagai dasar penggeraknya. Di bawah pimpinan Ulama Zuhud, H. Samanhudi, perkumpulan ini berkembang pesat hingga menjadi perkumpulan yang berpengaruh. R.M. Tirtoadisurjo pada tahun 1909 mendirikan Sarekat Dagang Islamiyah di Batavia.

Pada tahun 1910, Tirtoadisuryo mendirikan lagi organisasi semacam itu di Buitenzorg. Demikian pula, di Surabaya H.O.S. Tjokroaminoto mendirikan organisasi serupa tahun 1912. Tjokroaminoto masuk SI bersama Hasan Ali Surati, seorang keturunan India, yang kelak kemudian memegang keuangan surat kabar SI, Oetusan Hindia.

Tjokroaminoto kemudian dipilih menjadi pemimpin, dan mengubah nama SDI menjadi Sarekat Islam (SI). Pada tahun 1912, oleh pimpinannya yang baru Haji Oemar Said Tjokroaminoto, nama SDI diubah menjadi Sarekat Islam (SI). Hal ini dilakukan agar organisasi tidak hanya bergerak dalam bidang ekonomi, tetapi juga dalam bidang lain seperti politik. Jika ditinjau dari anggaran dasarnya, dapat disimpulkan tujuan SI adalah sebagai berikut:

Mengembangkan jiwa dagang, Membantu anggota-anggota yang mengalami kesulitan dalam bidang usaha, Memajukan pengajaran dan semua usaha yang mempercepat naiknya derajat rakyat, Memperbaiki pendapat-pendapat yang keliru mengenai agama Islam, Hidup menurut perintah agama.

SI tidak membatasi keanggotaannya hanya untuk masyarakat Jawa dan Madura saja. Tujuan SI adalah membangun persaudaraan, persahabatan dan tolong-menolong di antara muslim dan mengembangkan perekonomian rakyat.

Keanggotaan SI terbuka untuk semua lapisan masyarakat muslim. Pada waktu SI mengajukan diri sebagai Badan Hukum, awalnya Gubernur Jendral Idenburg menolak. Badan Hukum hanya diberikan pada SI lokal. Walaupun dalam anggaran dasarnya tidak terlihat adanya unsur politik, tetapi dalam kegiatannya SI menaruh perhatian besar terhadap unsur-unsur politik dan menentang ketidak adilan serta penindasan yang dilakukan oleh pemerintah kolonial. Artinya SI memiliki jumlah anggota yang banyak sehingga menimbulkan kekhawatiran pemerintah Belanda.

Seiring dengan perubahan waktu, akhirnya SI pusat diberi pengakuan sebagai Badan Hukum pada bulan Maret tahun 1916. Setelah pemerintah memperbolehkan berdirinya partai politik, SI berubah menjadi partai politik dan mengirimkan wakilnya ke Volksraad tahun 1917, yaitu HOS Tjokroaminoto; sedangkan Abdoel Moeis yang juga tergabung dalam CSI menjadi anggota volksraad atas namanya sendiri berdasarkan ketokohan, dan bukan mewakili Central SI sebagaimana halnya HOS Tjokroaminoto yang menjadi tokoh terdepan dalam Central Sarekat Islam.

Tapi Tjokroaminoto tidak bertahan lama di lembaga yang dibuat Pemerintah Hindia Belanda itu dan ia keluar dari Volksraad (semacam Dewan Rakyat), karena volksraad dipandangnya sebagai “Boneka Belanda” yang hanya mementingkan urusan penjajahan di Hindia ini dan tetap mengabaikan hak-hak kaum pribumi. HOS Tjokroaminoto ketika itu telah menyuarakan agar bangsa Hindia (Indonesia) diberi hak untuk mengatur urusan dirinya sendiri, yang hal ini ditolak oleh pihak Belanda.

Syarikat Islam

Pada tahun 1912, oleh pimpinannya yang baru Haji Oemar Said Tjokroaminoto, nama SDI diubah menjadi Sarekat Islam (SI). Hal ini dilakukan agar organisasi tidak hanya bergerak dalam bidang ekonomi, tetapi juga dalam bidang lain seperti politik. Jika ditinjau dari anggaran dasarnya, dapat disimpulkan tujuan SI adalah sebagai berikut:

Dalam sejarahnya, SDI atau SI yang didirikan para Ulama dan Kiyai Besar sekelas KH. Samanhudi dan HOS Tjokro Aminoto membuat Belanda Tak pernah berhasil melaksanakan Misinya. (dari berbagai sumber)

Pesantren Pelopor Pendidikan Di Indonesia

Menengok sejarah diatas, tak sepatutnya pemerintah saat ini melupakan dan apriori terhadap dunia pesantren, tapi pada kenyataannya, banyak Pondok Pesantren yang tidak dapat perhatian dari pemerintah, sebagai contoh: pesantren yang terlupakan Ponpes Nurul Qodiri yang diasuh oleh (Alm) Kiyai Nurul di Teluk Bango Rt02/01 Desa Karangharja Kec: Pebayuran Kab: Bekasi.

Kondisi bangunan Ponpes ini sangatlah memprihatinkan dan miris bagi siapapun yang melihatnya, bangunan Ponpes sudah sangat usang dan akhirnya hampir tak ada lagi peminat terhadap pesanttren ini, minat orang tua untuk memasukkan putra putrinya ke Ponpes kian menurun.

Melihat kenyataan ini, sangat boleh jadi, aparatur pemerintah dari Kepala Desa, Camat dan Bupati Bekasi tak punya hati, hingga membiarkan bangunan Ponpes Nurul Qodri yang hampir ambruk.

Dengan membiarkan Ponpes terbengkalai dan terbelakang, ini sama saja Pemerintah Kabupaten Bekasi telah mengkerdilkan Bangsa ini, seharusnya, Pemkab Bekasi memberi perhatian maksimal kepada seluruh Ponpes yang ada di Bekasi sebagai manifestasi penghargaan pemerintah terhadap jasa Santri dan Ulama terhadap Bangsa dan negara ini.

Kepada wartawan amunisinews.com, salah seorang santri alumni ponpes Nurul Qodiri (Arman hermansah) mengatakan,” dirinya terpanggil untuk membangun dan mengaktifkan kembali Ponpes ini. “Namun saya juga bingung dana dari mana untuk mewujudkan niat saya ini, tapi saya yakin dengan izin Allah, keinginan saya pasti terlaksana, man jada wa jada, itu keyakinan saya,” tandasnya optimis.(rukmana)

Pos terkait