Petani Mitra Desak Koperasi Berikan Bagi Hasil Yang Benar

  • Whatsapp

Oleh : Yani

KETAPANG, AMUNISINEWS.CO.ID – Para petani mitra dari Desa Botuh Besi, Desa Jualan Hilir dan Desa Sekucing Labai. Rabu, 12 Januari 2022 lalu, kembali gelar aksi protes di Pabrik Kelapa Sawit (PKS) milik PT Aditya Agrorindo (AAG) di daerah Nangak Desa Sekucing Labai, Kecamatan Simpang Hulu, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat.

Bacaan Lainnya

Para petani menuntut pihak Koperasi memberikan hak para petani dengan hitungan yang jelas dan benar.

Tuntutan yang disampaikan ;

1. Memenuhi 20% lahan kepada petani, dari pembagian pola kemitraan. 

2. Kembalikan pengelolaan lahan petani kepada koperasi sepenuhnya. 

Leo S.H. selaku pengacara yang turut menyuarakan aspirasi para petani, didepan PKS PT Aditya Agrorindo, banyak temukan kekurangan dalam proses pengelolaan kebun. Dimana pihak manejemen PT AAG terhadap kebun Petani Mitra, tidak sepenuh hati dilakukan.

“Terlihat jelas diblok-blok, banyak buah restan/sisa dan perawatan kebun Mitra tidak sama seperti yang dirawat dan di kelola kebun inti, kami punya buktinya,” tegas Leo.

“Itu merupakan lahan produksi yang akan menghasilkan keuntungan besar, bilamana dikelola dengan baik. Kalau ditelantarkan seperti begitu, jelas kami rugi besar dan tentunya para Petani Mitra akan merasakan kerugian yang berkepanjangan” tutup Leo.

Aksi massa yang digelar Petani Mitra dari tiga Desa di depan PKS PT AAG belum menghasilkan keputusan yang jelas dan masih menunggu pihak Koperasi serta pihak Manejemen untuk memberikan jawaban yang bisa diterima oleh para Petani Mitra, mengacu pada dua tuntutan diatas.

Para petani yang terdiri dari bapak dan ibu-ibu, rela menunggu diluar pagar PKS PT AAG hingga larut malam, untuk menunggu jawaban yang diharapkan.

Sementara Koperasi Tapang Betuah di Desa Kualan Hilir melalui ketua Koperasinya menjelaskan, “masalah lahan 20% kembali pada petani dinilai sudah cukup, bahkan sudah lebih. Dari total lahan 2240 hektar, untuk  lahan Petani Mitra mendapatkan 509 hektar,” jelas Ketua Koperasi.

Terkait tuntutan yang kedua, sepenuhnya diambil alih koperasi dalam hal pengelolaan lahan.

“Itu sudah tercantum dalam MoU sebelumnya, dan bilamana mau merubah MoU, tentu harus diadakan pertemuan dan rapat musyawarah kembali.” tambah Ketua Koperasi Tampang Bertuah.

Kimsen, selaku ketua Koperasi Sekucing Labai Mandiri Lestari (SLML) di Desa Sekucing Labai, juga menjelaskan hal yang sama tentang MoU dan pengelolaan lahan Petani Mitra. Sedangkan Koperasi Desa Botuh Besi, tidak ada penjelasan dan tidak ada perwakilan yang hadir.

Penjelasan dari pihak Koperasi dan pihak Manejemen Kebun PT AAG, dianggap belum bisa diterima oleh para Petani Mitra yang hadir berdemo. Dan menganggap apa yang disampaikan pihak Koperasi, dinilai tidak memuaskan dan masih perlu proses rapat untuk perbaikan MoU, karena jawabannya masih sama dengan pertemuan sebelumnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *