PT Agra Jaya Bhaktitama Diduga Kibuli Koperasi

Oleh : Roesliyani

KETAPANG, AMUNISINEWS.CO.ID – PT. Agra Jaya Bhaktitama Diduga Kibuli Koperasi Lanjut Jaya Makmur Sejahtera (LJMS) ketika pengurus dan anggota koperasi bersama dengan Dinas Perkebunan Kabupaten Ketapang lakukan pemeriksaan di lahan kebun sawit Koperasi LJMS. Kamis (24/03/22).

Ketua Umum koperasi LJMS, Yohanes Tehadi menyampaikan pada awak media Amunisi, bahwa ketika dirinya meminta Rencana Kerja Bulanan (RKB) pada manajemen perusahaan, pihak PT AJB menolak, dan tidak menjawab.

Bacaan Lainnya

“Kebun koperasi ini memang dirawat oleh pihak perusahaan namun tidak sepenuh hati. Terbukti di lapangan banyak lahan tak tertanam dan tanaman mati karena lilitan akar kacang makuna,termasuk gulma di lahan ini tidak pernah di tebas atau di racun, sehingga kebun bersemak dan pemanen tidak bisa masuk sampai kedalam lahan karena banyaknya pohon-pohon kayu yang jadi halangan para pemanen, juga jalan-jalan blok banyak yang tidak di pelihara pihak perusahaan,” terang Yohanes.

Menurut Yohanes Tehadi, koperasi LJMS mulai bermitra dengan PT AJB, sejak 1 Juli 2016, dan telah terjadi serah terima. Namun dari pengurus sampai anggota koperasi yaitu para petani mitra, belum pernah mendapatkan hasil yang sesuai dari 330,7 hektar lahan koperasi. Mereka justru dibebani hutang yang tak jelas, yang di sampaikan oleh pihak manajemen kebun PT AJB pada pihak koperasi namun tidak adanya rincian yang jelas.

Di tempat yang sama, Suhermanto ketua harian koperasi LJMS juga memberikan keterangan yang sama dan menjelaskan bahwa, “lahan petani mitra Desa Lanjut Mekar Sari seluas 330,7 hektar, namun yang produktif hanya 141 hektar, itupun lahannya sangat kotor, sektar 189,7 hektar tidak produktif, sebagian tidak terawat dan sebagian mati. Terbukti saat tim penilai turun ke lapangan, terlihat jelas kebun koperasi tidak di rawat,” terang Suhermanto.

Suhermanto juga menjelaskan bahwa sebelumnya di bulan November 2018 tim penilai dari Dinas Perkebunan Kabupaten Ketapang pernah juga menyimpulkan, sebanyak 59,5 hektar lahan koperasi yang tidak layak di serahkan pada petani. Dan rusaknya kebun lebih dari 50%.

“Dalam uji penilai kelayakan kebun, tentu tidak layak di serahkan dan di kelola koperasi, karena inilah yang terjadi, hasil petani sangat miris sekali, perhektarnya hanya bekisar 200.000 sampai 300.000 rupiah saja, yang di dapat para petani. lalu sampai pokok sawit ini di riplinting pun kami petani tidak akan lepas dari keridit yang tak tentu hitungan dan rincian itu. Lalu sampai pokok sawit ini di riplinting pun, kami petani tidak akan lepas dari kredit yang tak tentu hitungan dan rincian itu. Sudah jalan lima tahun koperasi LJMS berdiri dan kami dibebani hutang dari manajemen PT AJB awalnya sebesar 34 milyar dan kami tolak untuk menanda tangani, karena tidak punya dasar sama sekali. Lalu muncul lagi beban hutang koperasi sebesar 26 milyar, juga kami tolak dan alasannya sama, dasar hutang sebesar itu dari mana. Sebelum pihak perusahaan menjelaskan rincian hutang yang sejelas-jelasnya kami tetap tidak akan tanda tangan. Dan terlihat jelas sekali, hitungan hutang koperasi LJMS yang bermitra dengan PT AJB, dibuat asal asalan. Memang ada mafia di tingkat petinggi PT Agra group ini,” keluh Suhermanto.

Suhermanto juga menjelaskan kerugian kebun koperasi dari 1 Juli 2016 sampai Desember 2021, sekitar 9 milyar lebih berdasarkan perhitungan selama jalan 5 tahun ini.

“Dasarnya jelas, perawatan 35 % yang di kelola kami anggap fiktif, tetapi beban biaya perawatan selalu di potongkan pada petani mitra. Buktinya kebun koperasi tidak berawat sama sekali dan karena tidak dirawat itulah tandan buah segarnya (TBS) tak dapat di panen dan di  kumpulkan, untuk di jual. Dari itulah, pihak perusahaan yang seharusnya penuhi semua kerugian petani mitra yang di sebabkan oleh kelalaian pihak PT AJB, kurang lebih 9 milyar ripoah,” tutup Suhermanto.

Hal senada diungkapkan Andri, mantan Kades Lanjut Mekar Sari bahwa dirinya menganggap, pihak perusahaan ini selalu berbohong, “Contoh masalah bloknya saja, selalu berubah ubah. Tahun 2018 ada 23 blok untuk lahan 330,7 hektarm tapi pada malam tanggal 24/3/22, ada 14 blok, lalu paginya hanya 11 blok, ini menandakan tidak konsistennya pihak manajemen. Belum lagi masalah peta, yang di pinta peta digital PDF, tapi yang di berikan peta print out dan yang anehnya lagi PT AJB pada hari Kamis 24/3/22, saat pertama cek lahan bersama tim penilai dari Disbun, tidak menurunkan orang  yang berkompeten dari PT AJB, termasuk tim GIS. Yang ikut dan turun kelahan hanya karyawan biasa,yang tak tahu menahu tentang kebun yang sebenarnya. Nah dari itu semua kami anggap pihak perusahaan sengaja tidak mau bertanggung jawab atas kesalahan dan kelalaiannya selama ini. Semua membingungkan kami sebagai pengurus koprasi. Hari pertama cek lahan dengan tim penilai dari Dinas Perkebunan, kami  anggap tidak ada hasil yang ada, hanya dapat capek dan membosan kan saja,” terang Andri.

Andri berharap setelah penilaian kebun ini, hasil dari kebun mitra minimal target 1,5 ton untuk hasil perhektarnya, “jangan sampai macam sekarang lahan mitra seluas 330,7 hektar hanya menghasilkan buah hasil panen masih di bawah 200 ton. Saya berharap agar kedepannya sistem manajemen ini jangan sampai eror lagi,” pungkas Andri.

Saat awak media Amunisi hendak konfirmasi terkait keluhan yang disampaikan para petani yang tergabung dalam Koperasi LJMS, pihak manajemen atas nama Suandi, dikatakan tidak ada di kantor. Dan sampai berita ini di tulis, pihak yang bertanggung jawab dari manajemen PT AJB, belum bisa di temui.

Pos terkait