Refleksi Hari Guru Nasional: PERAN GURU YANG TIDAK AKAN LEKANG OLEH ZAMAN

  • Whatsapp
Setiawansyah

Oleh: Setiawansyah

Sayyidina Ali r.a. pernah berujar: “Orang yang mengajarkanku satu ayat atau satu kalimat yang belum aku ketahui, maka aku rela untuk dijadikannya sebagai budak atau hamba sahaya.”

Sebuah ungkapan tulus yang menempatkan guru sebagai profesi mulia. Tidak hanya itu, tanpa sadar kepada guru juga sering disematkan ekspektasi yang tinggi dalam masyarakat.

Begitu tingginya ekspektasi itu sampai-sampai muncul pepatah Cina: “Berikan saya seekor ikan agar saya bisa makan hari ini. Ajarkan pula saya memancing, agar saya bisa makan setiap hari.”

Dari pepatah itu, saya jadi teringat nasihat: “Tuntutlah ilmu sampai ke Negeri Cina”. Nasihat singkat ini sangat populer di negeri kita, bahkan sebagian besar menyebutnya hadis Nabi saw, namun tidak sedikit pula yang menolaknya (baca: hadits dhā’if, lemah).

Terlepas dari perbedaan pendapat itu, saya memandang gemerlap negara- negara yang menguasai ilmu pengetahuan, termasuk negara-negara Asia yang berpenduduk mayoritas Cina seperti Singapura, Korea Selatan, atau Cina sendiri, memperlihatkan bagaimana suntikan ilmu pengetahuan yang dihasilkan dari proses pendidikan yang baik, bisa membangkitkan kemajuan dan taraf ekonomi sebuah negara.

Itulah sebabnya, menurut hemat saya mengapa pemerintah menunjukkan keseriusannya untuk menata dan membenahi masalah pendidikan sejak awal kemerdekaan sampai sekarang.

Presiden Soekarno misalnya, pernah berkata: “…sungguh alangkah hebatnya kalau setiap guru di Perguruan Taman Siswa itu adalah Rasul Kebangunan. Hanya guru yang dadanya penuh dengan jiwa kebangunan yang dapat ‘menurunkan’ kebangunan ke dalam jiwa sang anak”. (Moh. Yamin, 2009)

Hal yang bisa dicermati, bahwa Soekarno banyak menaruh harapan kepada guru untuk mengubah pola pikir masyarakat dari keterjajahan menuju kemerdekaan, dan melepaskan bangsa dari lubang kebodohan antah-berantah.

Sejalan dengan itu, pendidikan dalam genggaman Orde Baru lebih menekankan pada pendidikan dan latihan, penyeragaman ideologi, indoktrinasi, atau tutorial yang mengajarkan peserta didik agar patuh dan menjadi penurut.

Hampir seluruh materi kurikulum pendidikan umum pada saat itu sangat mendukung ideologi militerisme. Kebijakan tersebut semakin diperkuat oleh kecenderungan pemerintah dalam penyiapan calon-calon tenaga guru negeri, penataran-penataran, prajabatan calon- calon guru pegawai negeri sipil dan sejenisnya di bawah instruktur militer. (Anita Lie, 2008).

Selanjutnya, profesionalisme guru menjadi salah satu isu yang cukup menonjol pada pasca Reformasi bahkan sampai sekarang, karena ada asumsi bahwa merosotnya kualitas pendidikan nasional disebabkan oleh keberadaan guru yang tidak profesional.

Dari berbagai isu yang berkaitan dengan kondisi guru Indonesia itu, terdapat satu kondisi yang harus disadari, yaitu peran guru tidak akan pernah tergantikan oleh apapun dalam peningkatan mutu pendidikan karakter, budaya dan moral.

Memang belakangan, pada teori belajar modern peran guru mengalami pergeseran, tidak lagi menjadi satu-satunya penentu keberhasilan anak didik, tetapi mulai ada batas-batasnya. Batas itu antara lain sering dibahasakan seperti peran “menawarkan buah” (baca: menyampaikan dan menjelaskan materi ajar dengan berbagai pendekatan pembelajaran), namun tetaplah pada akhirnya anak didik juga yang ”mengunyahnya”.

Teori ini pada prinsipnya ingin memberikan kesempatan kepada anak didik untuk mengembangkan segenap potensi yang dimilikinya. Dengan begitu anak didik dapat berperan sebagai subyek belajar secara lebih luas, dan di lain pihak guru lebih diposisikan sebagai fasilitator atas kebutuhan belajar anak didiknya.
Perubahan ini tidak lantas menjadikan peran guru mengecil.

Justru sebaliknya, WF Connell mengklasifikasikannya ke dalam tujuh peran yang bisa dikembangkan oleh guru yakni sebagai:

1) pendidik; 2) model; 3) pengajar dan pembimbing; 4) pelajar; 5) komunikator terhadap masyarakat setempat; 6) pekerja administrasi; serta 7) kesetiaan terhadap lembaga.

Terlepas dari persoalan besar kecilnya peran guru dalam menentukan keberhasilan anak didik, tentu peran itu harus tetap dimainkan dengan baik. Bahkan idealnya seorang guru profesional dengan pengabdian tulusnya diharapkan tidak saja sebagai pelayan anak didik, tetapi lebih jauh lagi mampu menjadi motor penggerak bagi kemajuan bangsa dan negara dengan mencetak tenaga terdidik, terampil, dan berkarakter.

Di sisi lain, menjadi guru nyatanya jadi pilihan kita apapun kondisi yang melatarbelakanginya. Sejatinya pilihan ini bisa menjadi kebanggaan, karena melalui guru, kita sebenarnya diberikan kesempatan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa untuk merubah generasi bangsa menjadi lebih baik, seperti yang pernah dinyatakan oleh Nelson Mandela, “education is the most powerful weapon which you can use to change the world’. (Husein Haikal, 1998).

Sementara itu Iwan Fals lewat puisnya memposisikan guru “…seperti mata air, dan peserta didik adalah sungai-sungai kehidupan yang mengalir lewat muara sebelum akhirnya ke lautan lepas, seterusnya terbang ke awan untuk menjadi butiran air hujan yang bisa menyuburkan atau justru menimbulkan malapetaka banjir yang meluluhlantakkan, bahkan mematikan… lalu menjadi air mata”.

Senada dengan Mandela dan Iwan Fals, ada pepatah juga, “guru itu bagaikan pohon pisang: tidak akan mati sebelum berbuah, dan tidak akan berbuah sebelum bertunas. Buah seumpama ilmu yang diamalkan, sedangkan tunas ibarat peserta didik yang kita bina. Kasih sayang guru juga harus seperti daun pisang, dijadikan payung kala hujan, melindungi kelezatan makanan dari debu dan kotoran. Bahkan batang pisang sekalipun tetap berguna menjadi alas saat jenazah disucikan”, subhānallāh.

Berkaitan dengan itu, saya jadi teringat tulisan seorang teman senior: “Menteri boleh saja berganti, kurikulum niscaya berubah, dan kepala sekolah pasti dirotasi, tetapi pengabdian kita tidaklah akan terhenti. Apapun yang terjadi, kewajiban kita adalah memberikan yang terbaik bagi para anak didik”.

Tentu menyenangkan bila semuanya serba ideal; program kerja ada, skenario pembelajaran luar biasa, sarana pendukung lengkap, perhatian pemerintah akan kesejahteraan juga optimal, dan seterusnya dan sebagainya. Tetapi, lagi-lagi teman saya mengingatkan lewat tulisannya: “seideal apapun kondisi itu diciptakan, bila kita mengajar tidak dengan hati dan melaksanakan tugas tidak dengan cinta, pada gilirannya akan sia-sia.”

Mungkin karena faktor seperti ini, sewaktu SMP dan SMA, saya sangat terkesan dengan guru-guru yang hanya membawa kapur tulis ke kelas, tetapi kemudian menjelaskan dan memberikan pemahaman dengan sangat apik dan luar biasa.

Dan yang sangat saya kagumi, mereka tidak pernah memperlihatkan perasaan jenuh, lelah, capek dan bosan. Mereka menemani saya dan teman-teman di kelas sesuai jam mengajar dengan kesungguhan dan keikhlasan.

Mengingat itu, maka sudah saatnya memantapkan hati, memperbarui tekad dan semangat kita untuk memberikan yang terbaik bagi para anak didik kita. Minimal kita berusaha untuk selalu setia menemani mereka di kelas sesuai jam mengajar.

Tentu sangat membanggakan apabila kita mampu menjadi pendidik hebat seperti yang dikategorikan oleh Wardani, yaitu mereka yang terus mau belajar memantaskan diri untuk menjadi pendidik yang menginspirasi, menggerakkan dan meneladani, juga mampu menjadi sutradara terhadap berbagai peran yang akan dimainkan oleh anak didiknya. (Kristi Wardani, 2019).

Tetapi apapun kondisi kita, seperti apa dan bagaimana orang lain menilai kita, yang terpenting adalah kita bisa mengajar dengan hati dan melaksanakan tugas dengan cinta lillāhi ta’āla.

Di akhir tulisan, saya kutip nasihat KH. Maimun Zubair, seorang ulama besar yang tidak hanya alim dan faqih, namun juga terkenal dengan nasehat-nasehat yang bijak seperti terpampang besar di ruang guru SMPN 1 Legok.

“Jadi guru itu tidak usah punya niat bikin pintar orang. Nanti kamu hanya marah-marah ketika melihat muridmu tidak pintar, ikhlasnya jadi hilang. Yang Penting niat menyampaikan ilmu dan mendidik yang baik. Masalah muridmu kelak jadi pintar atau tidak, serahkan kepada Allah. Didoakan saja terus menerus agar muridnya mendapat hidayah.”

“Yang paling hebat bagi seorang Guru adalah mendidik, dan rekreasi yang paling indah adalah mengajar. Ketika melihat murid-murid yang menjengkelkan dan melelahkan, terkadang hati teruji kesabarannya, namun hadirkanlah gambaran bahwa di antara satu dari mereka kelak akan menarik tangan kita menuju surga”.

Semoga Allah SWT meninggikan derajat kita seperti janji-Nya terhadap orang yang beriman dan berilmu pengetahuan (QS. al-Mujadalah [58]: 11), dan memberikan pemahaman terbaik bagi anak didik kita.

Selamat Hari Guru Nasional 2021, terima kasih telah menjadi guru saya.

DAFTAR PUSTAKA

Haikal, Husein, Globalisasi dan Antisipasi (Pendidikan Indonesia Menyongsong Abad XXI), Jakarta: Cakrawala Pendidikan Edisi Dies Tahun 1998.

Lie., Anita, Pendidikan Nasional dalam Reformasi Politik dan Kemasyarakatan. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma, 2008.

Wardani, Kristi, Peran Guru Dalam Pendidikan Karakter Menurut Konsep Pendidikan Ki Hadjar Dewantara, Makalah disampaikan pada Proceedings of The 4th International Conference on Teacher Education; Join Conference UPI & UPSI Bandung: 8 s.d. 10 November 2019.

Yamin, Moh., Menggugat Pendidikan Indonesia, Yogyakarta: ar-Ruzz Media, 2009.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *