SBY – MEGA, MASIH BERSETERU,.?

  • Whatsapp

New Picture (75) BaruSby HL 326

AMUNISINEWS.COM, JAKARTA – Secara politisi, Jokowi bukanlah rival politiknya SBY. Namun, karena Jokowi disebut-sebut sebagai “petugas partai” dari PDIP, maka “perseteruan” Mega SBY mencuat lagi dalam Pilkada Jakarta?
Dikenal santun dan penyabar, meski dikritik pedas sana-sini, tak membuat mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tersulut emosinya. Namun, dalam kondisi politik Indonesia saat ini, SBY tak bisa menahan diri. Selain prihatin, dalam twitternya, ayah dari Calon Gubernur nomer urut 1 ini, menye-but juru fitnah dan penyebar hoax sudah berkuasa.
“Ya Allah, Tuhan YME. Negara kok jadi begini. Juru fitnah dan penyebar “hoax” berkuasa dan merajalela. Kapan rakyat yang lemah menang?” tulisnya dalam akun twitternya, Jumat lalu.
Sayangnya, lelaki asal Pasuruan, Jawa Timur, ini tak menyebut langsung siapa pihak yang berkuasa, ataupun “hoax” macam apa yang bergulir? Ditujukan kepada Presiden Jokowi?
Secara politis, keduanya tidak pernah bersiteru.
Maklumlah, saat menjadi orang nomer satu di negeri ini, Jokowi masih “bermain” tingkat lokal dengan jabatan Walikota Solo. Bahkan, ketika menuju Balai Kota, SBY pun tetap menjadi presiden. Justru, ketika SBY lengser setelah dua periode, Jokowi yang menggantikannya, setelah memenangkan Pilpres atas rivalnya, Prabowo Subianto.

Tapi, entah kenapa, dalam perjalanan, benih-benih ketidakcocokan menyembul ke permukaan. Apalagi saat Pilkada Jakarta bergulir. Lihat saja, menjelang dan sesudah Demo 411, ketidakhamonisan itu begitu kasatmata. Sebab, dalam silaturahmi politiknya, Jokowi tidak menyambangi Cikeas, kediamannya SBY.
Sementara rival sengitnya di Pilpres didatangi. Bahkan, keduanya sempat naik kuda bersama dengan topi cowboynya.
Usut punya usut, ternyata ada “berita tak sedap” soal demo 411 Gerakan Nasional Pengawal Fatwa MUI (GNPF MUI) yang diawaki oleh “bos” FPI, Habib Rizieq. Disebut-sebut, gerakan tersebut “didanai” oleh SBY. Apalagi secara gamblang SBY meminta penistaan agama yang dilakukan Ahok harus diproses hukum, sesuai dengan keinginan GNPF MUI tadi. Lagi-lagi, suara keterlibatan SBY pada demo 411 tadi, tak bisa dipisahkan dari putra sulungnya menuju Balai Kota. Banyak menyebut, Demo 411, termasuk proses hukum Ahok itu, salah satu upaya menjegal Ahok memimpin kembali Jakarta.
Suara sumbang itu, alias Hoax tadi, membuat SBY jadi gerah.
“Itu bukan hanya fitnah yang keji, tapi juga penghinaan yang luar biasa kepada Pak SBY,” bantah sang istri, Ani Kristiani Herrawati, atau akrab dengan panggilan Ani Yudhoyona dalam instagramnya. Menurutnya, selama 30 tahun di TNI dan pemerintahan, SBY telah mengabdi pada bangsa dan negara. Ia siap mempertahankan dan membela NKRI dengan taruhan nyawa.
“tidak ada DNA keluarga kami berbuat yang tidak-tidak. Jadi kalau ada tuduhan kepada pak SBY yang menggerakkan dan mendanai aksi damai 4 November lalu,” jelas Ani.
Begitupun SBY, secara khusus menyampaikan “pidato politiknya” di Cikeas, disiarkan langsung televise. Di situ SBY mengeluarkan semua uneg-unegnya, termasuk cara kerja BIN, termasuk soal penistaan agama Ahok terhadap surat Al Maidah.
“Pidato politik” itu pun memunculkan pelbagai reaksi. Ada menyebut tak usah ditanggapi jika memang tidak terlibat, ”Kalau merasa bukan (dalang di balik demo 4 November 2016) ya enggak usah komentar. Kan orang jadi menduga-duga,” ujar Masinton Pasaribu, anggota Komisi II DPR. Bahkan, politisi PDIP ini meminta agar SBY menjadi penengah dalam menjernihkan suasana menjelang Pilgub.
Begitupun mantan juru bicara Demokrat, Ruhut Sitompul, ikut-ikutan “menyerang”. Kata dia, dukungan SBY soal penegakan hukum terhadap Ahok, , untuk menurunkan elektabilitas Ahok. Sehingga peluang putra sulungnya, Agus Harimurti menjadi gubernur DKI Jakarta kian terbuka.
”Iya dong anaknya kan maju, Ahok kan sudah enggak bisa dibendung. Ini kan semua ketakutan sama Ahok,” kata Ruhut waktu itu, yang kini menjadi tim suksesnya Ahok-Jarot.

Namun, situasi saat ini, sepertinya “berbelok” menyusul nasib Sylviana Murni, yang terseret kasus dugaan tindak pidana korupsi dalam pengelolaan dana bantuan sosial Pemerintah Provinsi DKI Jakarta di Kwartir Daerah Gerakan Pramuka DKI Jakarta untuk tahun anggaran 2014 dan 2015, lalu masalah pembangunan masjid Masjid Al-Fauz di kantor Wali Kota Jakarta Pusat. Dua kasus ini saja, mampu melorotkan pamoritas pasangan nomer satu ini.
Terbelitnya masalah hukum Ahok dan Sylviana ini, banyak menyebutkan, masih saja ada “perseteruan” Mega dan SBY.

Maklumlah, mantan petinggi di republik ini, punya “jagoan” masih-masing dalam Pilkada Jakarta. Ahok – Jarot diusung oleh PDIP, sedangkan AHY – Sylviana oleh “koalisi Cikeas”.

Sementara Jokowi, seperti dikatakan oleh Mega sendiri, meru-pakan “petugas partainya” yang harus menjalankan kebijakan-kebijakan partai. Makanya, walau Jokowi bukan seterunya SBY secara politis, tapi tidak bisa dilepaskan dari PDIP yang sampai saat ini tetap diawaki oleh Megawati Soekarno Putri. Mungkin “perseteruan lama” ini yang membuat Pilkada Jakarta panas: saling fitnah, hoax dan men-jalani proses hukum?- *tim/lian

Pos terkait