Sempat Ditolak Beralih Tanam Bawang Merah,Petani Mergosari Optimis

  • Whatsapp

Oleh, Tama

SIDOARJO, AMUNISINEWS.CO.ID.- Awalnya tidak dapatkan dukungan dari para petani padi untuk beralih menanam bawang merah di Desa Mergosari Kecamatan Tarik tidaklah mematahkan semangat Purani untuk tetap menanam bawang merah Selasa (3/8/2021).

Pasalnya dengan keadaan pandemi untuk saat ini tidak berpengaruh khususnya oleh petani bawang merah.Berbeda dengan para pelaku usaha lainnya yang membuat banyak orang harus berjuang untuk kebutuhan ekonomi.Karena disemua sektor terdampak dari pandemi Covid-19 yang masih melanda.

Purani (47) salasatu petani bawang merah yang juga Kasun Desa Mergosari kelahiran Nganjuk itu mengatakan,sudah sejak 2016 mulai tanam Bawang merah,yang awalnya tidak ada suport oleh petani padi untuk beralih petani bawang merah. Alhamdulillah sudah ada pengalaman karena saya lahir Nganjuk mbak.

“Disini yang jadi kendala utamanya musim tanam kalau pas penghujan pasti akan tumbuh jamur.Dan kurangnya dana untuk modal bertanam Bawang merah,”kata Purani.

Kalau di Nganjuk bilangnya ‘mboler” daunnya tidak kuat pas musim tanam dibulan Mei dan Juli aman tidak ada kendala.Biasanya ulat di pertengahan dan tikus ada cuma sebagian kalau ada satu hektar beberapa umbi yang dimakan.Dan untuk itu butuh perhatian dan perawatan rutin.

Alhamdullah di Mergosari sudah pernah menanam dan dalam setahun 6 kali panen kalau dipaksakan dimusim kemarau.Kalau penjualannya borongan di sawah 16 ribu basah dari sawah mas,tutup Purani.

Senada Rasikin(57) kordinator penyuluh kecamatan Tarik Sidoarjo kepada amunisi disawah petani Selasa(3/8/2021),karena prospeknya sangat baik. Petani disini mulai tanam bawang merah sudah beberapa kali tanam sejak tahun 2020 kebetulan penyuluh di kecamatan Tarik memberikan bantuan Dem(demontrasi plot/tanam)di Desa Mergosari. “Karena petaninya sudah mau dan melaksanakan penanaman Bawang merah,dan untuk padi sering serang hama tikus,jadi petani disarankan tanam Bawang merah,”ujar Rasikin.

Alhamdullah disini Poktan(kelompok tani) rata- rata mendukung penanaman Bawang merah mbak.

Perlu diketahui keuntungannya tanam padi sama Bawang merah untungnya lebih banyak Bawang merah. Analisa kami bersama petani luasan setengah hektar biaya mencapai 38-40 jutaan. Kendalanya disini hama tikus yang menyerang,tapi tidak separah tanaman padi.

Kami juga berharap kalau bisa pemerintah Sidoarjo dapat menggalakkan tanam Bawang merah, seperti Nganjuk dan Brebes.Potensi untuk Sidoarjo cuma kendala di petani keterbatasan biaya dana,modal yang besar,jelas Rasikin.

Namun demikian pemerintah melalui dinas terkait tidak hentinya memberikan perhatian baik berupa bantuan material maupun non material.Karena masih ditemukan keluhan akan dampak pandemi di Sidoarjo.Dan juga menyebabkan salah satunya petani beralih ke tanam Bawang merah (holtikultura).

Sedangkan Lilis Sujiatmi staf Sarpras dari Dinas Pangan dan Pertanian Sidoarjo yang ditemui amunisi di lokasi Selasa(3/8/2021)menambahkan ,kami juga sudah memberikan bantuan bibit 500 kilo setengah hektar.

Dengan Dem (demontrasi) kita sosialisasi kan ke petani beralih tanam bawang merah,karena sekarang lagi prospek. Untuk petani yang bisa berhasil bisa memberi contoh ke petani yang lain mas. “Dengan budget (anggaran) yang sama pertama pupuknya mungkin kurang,tanah dari lokasi berbeda pengaruh produksi dengan PH tanah dengan yang lain cuma faktor utama tanah untuk hasil yang bagus,”ujar Lilis.

Kedua para petani supaya lebih menggunakan pupuk organik tidak hanya kimia karena yang ditanam holtikultura, dan disini begitu semua Gapoktan,dan satu kelompok tani yang sudah yakni Podorukun 1

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *