Sosok KH Hafis Gunawan Pendiri Ponpes Miftahul Khaer Tangerang

  • Whatsapp

Oleh, Edy S Tanjung Edy
TANGERANG, AMUNISINEWS.CO.ID — Ingin memiliki pondok pesantren (ponpes) yang berkembang, itulah cita-cita KH Hafis Gunawan, S.Pd. Sejak kecil ia sudah ditempa di ponpes. Awalnya mondok, ketika pulang dari Jakarta bersama ayahnya H.Rame Sumiardja bin Nelo sering naik delman dari Bitung Curug ke kampungnya di Rancaiyuh Panongan (dulu Cikupa) di Kabupaten Tangerang.

Dirinya yang masih kecil diam-diam menjadi tukang semir sepatu di pasar Senen, sering melihat anak-anak santri berada di Ponpes Al Hikmah di tepi jalan Curug. Keinginannya untuk bisa menjadi santri ini disampaikan kepada orang tuanya, yang akhirnya mengabulkan permintaannya untuk mondok di pesantren.

Sebagai santri Ponpes Al Hikmah, Hafis Gunawan menimba ilmu Madrasah Ibtidaiyah (MI) lulus tahun 1989 dan Madrasah Tsanawiyah (MTs) lulus tahun 1991 atau setingkat SD dan SMP, sambil mengaji kitab-kitab kuning. Lulus dari ponpes tersebut, kemudian dirinya melanjutkan ke Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Serang yang juga tetap menyantri di kota tersebut, hingga tamat pada tahun 1994. Seterusnya melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi di bidang pendidikan.

Keinginan memiliki Ponpes tempat sebagai menimba ilmu agama sekaligus ilmu umum dan ketrampilan itu terkabul pada pada 2008. Saat itu berdirilah Ponpes Miftahul Khaer yang beralamat di kampung Babakan, Kelurahan Sukabakti, Kabupaten Tangerang.

Tentang berdirinya Ponpes Miftahul Khaer, Hadis Gunawan mendapat dukungan keluarga terutama H. Armad Syaripuddin, yang merupakan ulama di Curug.

Begitu juga dengan tanggapan masyarakat di sekitar ponpes. Pada awalnya jumlah santri Miftahul Khaer di tingkat MTs sebanyak 23 orang. Sedangkan santri di tingkat MI juga ada, namun tidak menginap di pondok. Maka hitungan kelas di pesantren adalah mulai kelas 1,2,3 Mts hingga kelas 4,5,6, MA atau SMA/SMK.

Hingga kini jumlah santri di ponpes Miftahul Khaer sudah mencapai 1.300 orang. Tersebar di tiga pondok yakni di kampung Babakan, Sukabakti Curug, kampung Kebon, Rancaiyuh Panongan dan Pasiripis, Rancaiyuh Panongan.

Ada sebanyak 155 pengajar yang merupakan lulusan ponpes ternama di Banten dan Jawa serta lulusan dari ponpes Miftahul Khaer sendiri yang sehari-harinya membina para santri.

Kepada santri, selain dibekali pengetahuan umum, pengetahuan agama dan ketrampilan, juga sangat banyak yang telah meraih prestasi. Diantaranya ada yang menang olimpiade matematika tingkat nasional dan ada menang pembuatan film pendek.

Dalam menimba ilmu, para santri sudah aktif sejak sebelum shalat Subuh, dibekali dengan mengaji berbagai pengetahuan tentang keislaman. Terkait muatan lokal yang diajarkan yakni Alquran, Alhadits, Fikih dari kitab-kitab kuning karangan para ulama tersohor. Tentunya, untuk mempelajarinya harus didasari pengetahuan nahu shorof.

Sebagai bagian dari kesantrian, Ponpes Miftahul Khaer juga kerap mengundang para habaib, ulama dan orang-orang soleh untuk memberikan ceramah atau memimpin dzikir dan shawalat.

Salahsatu kegiatan yang diisi para santri dan ustadz-ustadzah adalah bersama pembacaan manaqib Syekh Abdul Qodir Al Jaelany. Diantara ulama yang datang dan sering dikunjungi KH Hafis Gunawan adalah Habib Luthfi dari Pekalongan dan Abuya Muhtadi dari Pandeglang, serta banyak ulama lainnya.

Lantaran para santri ponpes Miftahul Khaer dibekali pengetahuan umum dan pengetahuan agama dan keterampilan, maka para santri secara rutin menggelar panggung seni akbar yang digarap setaraf profesional. Pentas seni santri di Ponpes Miftahul Khaer diadakan pada perpisahan santri yang diisi ragam seni islami. Ponpes ini juga secara rutin melaksanakan peringatan hari besar Islam, lomba berbagai pengetahuan dan keterampilan santri lainnya.

Berkat tangan dingin KH Hafis Gunawan, hingga ini sudah ada sebanyak 1.000 santri yang lulus dari Ponpes Miftahul Khaer dan telah bekerja dan berkarya di berbagai bidang. Menurut Hafis Gunawan, agar berkembang pondok pesantren yang dibina memang seharusnya ada figur ulama yang bisa menjadi contoh di pondok pesantren maupun di tengah masyarakat.

Amanah yang diberikan pengasuh ponpes yang menjadi pilihan masyarakat ini, adalah pesan kepada para santri untuk selalu menebar kebaikan dimanapun dan kepada siapapun.

Semua para ustadz merupakan lulusan pondok pesantren. Untuk meneruskan perjuangan KH Hadis Gunawan pun sudah menyiapkan anaknya dan para santri untuk melanjutkan tonggak estafet berkembangnya  pondok pesantren yang dicita-citakannya. Namun disadarinya, tidak semua lulusan pesantren harus menjadi ustadz. Para lulusan pondok pesantren banyak yang berkarya di manapun, serta bisa menjadi apapun. Termasuk menjadi pimpinan lembaga, PNS, politisi, pedagang, wirausahawan dan lainnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *