Verayanti Bersyukur Kasus Gaby Disidangkan, Terdakwa Diancam Hukuman 5 tahun

  • Whatsapp

gaby pengadilan1JAKARTA, AMUNISINEWS.COM – Kasus tenggelamnya Gabriella Sheryl Howard (8) atau yang akrab di panggil Gaby akhirnya masuk ruang sidang. Kedua orahng tua korban Asip dan Verayanti yang loebih dari setahun berjuang mencari keadilan merasa bersyukur pada Senin (30/1) dimulai sidang perdana.

“Cie, Senin kita sidang Cie,” tulis Verayanti dalam blog Gabriella Sheryl Howard . “Mama girang banget akhirnya kasus Bibie disidangkan juga. Mama percaya Bibie di surga pasti tahu perjuangan papa dan mama selama ini sampai kasus ini dinyatakan P21 dan akhirnya tiga hari lagi masuk ke pengadilan,” tulis Verayanti seolah menyampaikan curahan hati kepada putrinya.

“Tuhan pun tahu siapa saja yang sudah papa dan mama temui dan papa mama surati, agar pintu keadilan terbuka untuk darah Bibie yang tertumpah di Global Sevilla School Puri Indah. Ketika kasus Bibie mengalami jalan buntu, papa dan mama hanya bisa bergandeng tangan sambil menatap trotoar jalanan tempat dimana kami melangkahkan kaki, sambil bernyanyi “Ku tau Tuhan nanti buka jalan. Ku tau Tuhan dengar doa saya,” lanjut Verayanti.

“Biarlah tiap ayunan langkah papa dan mama dalam memperjuangkan kasus Bibie selama ini menjadi sebuah prasasti berbentuk love yang khusus papa mama persembahkan buat anak papa mama tersayang yang sudah di surga,”

“Kini perjalanan kasus kematian Bibie pun akan segera memasuki babak baru di meja pengadilan. Perjuangan di depan masih panjang. Namun mama percaya bila Tuhan mengizinkan kasus ini masuk ke pengadilan, Tuhan pun akan memberikan hasil akhir yang terbaik. Amin,” tutur Verayanti..

Dalam sidang perdana di Pengadilan Negeri Jakarta Barat (PN Jakbar) dihadirkan terdakwa guru olahraga Gaby, Ronaldo Laturette. Guru tersebut, oleh jaksa Sulvia Triana Hapsari didakwa meolanggar Pasal 359 KUHP tentang kelalaian yang mengakibatkan orang mati dengan ancaman hukuman maksimal 5 tahun. Namun sejauh ini, terdakwa belum ditahan sejak kasusnya masih di Polres Jakarta Barat.

Dalam sidang perdana ini, Jaksa menyampaikan dakwaan sekitar 10 menit. Terdakwa Ronaldo yang didampingi kuasa hukunya Arif Hidayat, SH akan menyampaikan keberatan atas dakwaan dalam sidang minggu depan. ‘Nota keberatan akan disampaikan pada tanggal 6 Februari 2017 mendatang,” ujar ketua majelis hakim Matauseja Erna Marylin.

Seperti diketahui, lebih dari setahun orang tuia Gaby terus berjuang agar kasus ini diproses sesuai hukum. Mereka pun mengadu kemana-mana termasuk ke Presiden Djoko Widodo mohon kepastian dan perlindungan hukum atas kasus yang menimpa putri sulungnya itu.

Dalam surat kepada Jokowi tertanggal 2 September 2016 lalu, kedua orang tua Gaby, panggilan gadis itu, Verayanti dan Asip mengurai secara jelas kronologi hingga prilaku GSS yang dinilainya tidak mau mengakui kelalaian, yang menyebabkan Gaby meninggal dunia. “Kami meminta kepastian hukum dari Pak Jokowi dengan harapan pihak istana memerintahkan kepada Kapolri, Kapolda Metro Jaya dan Kapolres Jakarta Barat untuk menyelesaikan proses penyidikan. Kami merasa kecewa karena sudah setahun berlalu kasus ini pember-kasannya belum dianggap lengkap,” kata Verayanti.

Peristiwa naas yang menimpa Gaby terjadi pada 17 September 2015 lalu. Hingga kini berkasnya masih bolak- balik dari polisi ke Kejaksaan.

Kabar terakhir, jaksa penuntut umum memberikan catatan kepada penyidik untuk memeriksa dua saksi kunci lagi. Tapi penyidik belum bisa menghadirkan dua saksi tersebut dengan alasan belum mendapat izin kedua orang tua saksi.

Padahal, sejauh ini sekitar 23 saksi diperiksa dan penyidik menetapkan tersangka guru olah raga Ronaldo Laturette. “Kurang apalagi ? “ kata Verayanti bertanya-tanya, ketika itu.

Nah, karena penanganan terkesan mandek, Vera dan Asip mengadu ke presiden dengan menyebut kasus yang menimpa Gaby karena dugaan kelalaian guru dan pihak sekolah.
GSS, katanya, melakukan se-dikitnya tiga perbuatan melawan hukum. Pertama, kolam renang dengan kedalaman 160 cm tanpa dilengkapi lifeguard dan saat keja-dian belum terpasang CCTV.
Kedua, satu guru mengawasi 15 murid di kolam renang tanpa menyeleksi terlebih dauhulu siapa diantara murid yang belum bisa berenang.

Ketiga, dianggap melanggar kurikulum. Misalnya pelajaran renang merupakan pelajaran wajib, saat murid berenang guru hanya berdiri di atas, guru justeru tidak tahu ada murid yang tenggelam. Peristiwa yang menimpa Gaby diketahui saat diabsen Gaby tak menyahut, guru bukannya mencari tapi melewati dengan memanggil nama lain, Gaby diketahui tenggelam setelah temannya yang telah selesai dites melihatnya.

“Berdasarkan keterangan teman-temannya, Gaby tenggelam setelah berusaha menolong temannya yang tidak bisa renang, namun tidak terpantau guru. Temannya yang mau tenggelam itu selamat karena menarik baju teman lainnya yang berada di pinggir kolam,” kata Verayanti.

Pada bagian lain suratnya, Vera dan Asip mencurigai Gaby cukup lama tenggelam tanpa diketahui pihak sekolah mengingat hasil keterangan No. 027/SK/X.MR/RSPIPI/ 2015 dari rumah sakit Pondok Indah, Puri Indah yang ditandatangani dr Veronica H Hadi praja yang menerangkan keluar cairan dari ETT cukup banyak berwarna keruh dan merah, dengan diagnosa dead and arrival. “Dari keterangan itu dapat dilihat anak kami meninggal dunia sebelum sampai ke rumah sakit, karena guru GSS telat menyadari,” tulis Vera dan Asip kepada Presiden.

“Yang kami sesalkan pihak sekolah baik secara moral, agama, hukum dan sopan santun budaya ketimuran tidak mengakui kelalaiannya, dan menganggap kematian anak kami sebagai musibah dan kecelakaan murni,” tambah Vera dan Asip, dalam suratnya.

Vera dan Asip berharap presi-den dapat menginstruksikan jajaran kepolisian untuk percepatan pemberkasan agar kasus ini segera dapat disidangkan guna mengungkap fakta di balik peristiwa ini agar cepat terkuak. “Kami berharap pihak yang bersalah dapat bertanggung jawab,” kata Vera lagi.

Sayangnya, guru Ronaldo La-turette yang hendak dikonfirmasi sudah tak mengajar lagi di GSS. “Dia tak mengajar di sini lagi,” kata Wibowo saat Amunisi mengkonfirmasi ke GSS.
Begitu juga dengan Aderini Kencana M Sinurat, yang dalam pemeriksaan di Polres Jakarta Barat mengaku sebagai koordinator kurikulum yang bertanggung jawab atas pemberlakukan kurikulum, yang menurut Suku Dinas Pendidikan Jakarta Barat Drs H Samlawi, MM, terdapat pelanggaran.

Menurut H Samlawi, GSS hanya mengantungi izin sekolah nasional dan melakukan pembohongan publik bila menyebut sebagai sekolah internasional. “Kami dan Komisi E DPRD DKI Jakarta yang datang ke sekolah itu menemukan sejumlah pelanggaran. Bahkan atas pelanggararan tersebut, Kasudin sudah memberikan surat peringatan keras kepada GSS, tertanggal 8 Oktober 2015 ditujukan kepada Kepala SDS Global Sevilla,” ujarnya.

Kata H Samlawi, pelanggaran-nnya antara lain soal Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Sampai 21 September 2015 GSS belum menetapkan KTSP. “Sampai saat itu GSS belum memiliki dokumen KTSP yang disahkan oleh kepala sekolah dan diketahui oleh Kasudin.

Pelanggaran lain, materi renang dalam kurikulum 2006 seharusnya merupakan sebuah materi pilihan namun di GSS menjadi materi wajib. Materi renang dalam kurikulum 2006 tercantum pada urutan standar kompetensi nomor 10, seharusnya diajarkan pada semester II. Sedangkan di GSS diajarkan pada semester I,” kata H Samlawi.

Menyangkut pelanggaran kurikulum ini, Aderini Kencana M Sinurat, sesuai pengakuan di Polres Jakarta Barat, seharusnya bertanggung jawab dan bisa dijadikan tersangka, bukan hanya guru Ronaldo Laturette saja. Aderini sudah diperiksa sebanyak dua kali.

Titik terang akhirnya muncul ketika kedua orahng tua korban dapat berkomunikasi dengan Sespri Kapolri, sekaligus terus berkoordinjasi dengan KPAI. “Kami bersyukur kasusnya disidangkan,” katanya Vera di pengadilan.

Penulis : sudijanto

Editor : hendra usmaya

Pos terkait