Wabah Covid 19 Berkepanjangan Nasib Petani “di Ujung Tanduk”

  • Whatsapp
Wa Ujer

Oleh: Rukmana

Kuningan, amunisinews.co.id – Sujer Pria 60 Th meratapi kondisinya yang hanyalah seorang petani kecil yang mencoba bertahan hidup ditengah pandemi berkepanjangan.

Kamis 16/09/2021 Sujer mencurahkan jeritan isi hatinya kepada wartawan amunisi di sebuah rumah nenek tua (Jasih 67 Th) Ds. Karoya, Cipicung, Kuningan Jawa barat, Ia bercerita tentang betapa tingginya biaya bercocok tanam, “Covid 19 ini membuat kami para petani kecil menangis, harga pupuk 6000/Kg sedang harga gabah hanya 4500/Kg, belum lagi air harus beli dikarenakan musim kemarau,” katanya dengan tatapan mata kosong menatap langit langit rumah.

Lanjut Sujer,”ditengah mewabahnya covid19 ini bantuan beras dari pemerintah membuat hasil petani (gabah) bahkan beras kurang laku di Masyarakat yang membuat harga turun drastis, kami berharap pemerintah memberikan pupuk dengan harga murah dibawah harga beras atau gabah sehingga biaya bercocok tanam tidak tinggi dan kami para petani di desa seperti saya ini dapat hidup,” harapnya.

“Jika pupuk terus melambung, air harus beli untuk cocok tanam Rp: 25 ribu setiap menyiram, maka nasib petani diujung tanduk, semoga Corona segera berakhir Ya Allah,” ujar Sujer sambil menengadahkan tangan keatas.

Sementara itu lurah (kepala dusun) Kliwon Udin, saat bincang bincang membenarkan kondisi masyarakatnya yang sedang mengalami kesulitan air karena kondisi kemarau.

“Memang bertani kondisi sekarang biayanya tinggi sehingga biaya produksi lebih tinggi daripada hasil panen,” tuturnya singkat

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *