Waspada! Tagihan Air PAM PT. Aetra Asal Tembak

  • Whatsapp

meteran

JAKARTA ,  AMUNISINEWS.COM — Konsumen air PAM bernama Yanto,  warga Pademangan Barat merasa kecewa tagihan air oleh PT. Aetra Air Jakarta. tidak sesuai fakta di meteran yang dicatat oleh pencatat meter setiap bulannya. Kekecewaannya  disampaikan ke Amunisi, Kamis .(20/10)
” Saya sangat dirugikan, meteran tertera 00188 tapi dalam tagihan pemakaian 00243,” jelasnya

Hal ini harusnya, kata Yanto,  tidak terjadi, kalau pihak manajemen PT.Aetra mau bertindak benar dan tidak berniat merugikan atau membodohkan konsumen.
Iren, bagian Pelayanan Konsumen PT.Aetra, di kompleks Permata Ancol, Jakarta Utara.menjelaskan bahwa untuk rumah yang masih renovasi, belum ada pemakaian air PAM, dikenakan tarif minimum dua meter kubik, nantinya akan disesuaikan pembayarannya setelah ada pemakaian, maksudnya akan diperhitungkan karena lebih bayar.

meteran2

Pertanyaannya, setelah selesai renovasi dan baru ada pemakaian air kurang dari 1 meter kubik, kenapa bisa ada tagihan selisih 55 meter kubik. Meteran tercatat 00188 ditagih 00243,.?

Kejadian tidak sesuai fakta tersebut dipertanyakan lagi  kepada Iren, dijawab,” Saya belum terima data dari pencatat meter, nanti sama Ajis, leader meter yang lebih berwenang menjawab soal selisih kubikasinya agar tuntas persoalannya, ” jelas Iren. “ Pencatat meter itu tidak paham soal perbedaan antara fakta meter yang difoto dengan sistem kerja tagihan yang dikeluarkan PT. Aetra” urai. Iren

Selaku pelayanan konsumen, Iren kelihatannya sungkan menjelaskan secara detail sistem yang ditrapkan pihak PT. Aetra dalam perhitungan yang sangat merugikan konsumen itu.
Setidaknya Iren harus bisa menjelaskan keluhan dari konsumen yang sangat sederhana dan gampang  dibuktikan. Meteran difoto tertera 00188 dan ditagihan 00243,  ada apa sebenarnya sehingga harus Ajis yang lebih berhak menjelaskan. Sementara tugas Iren pelayanan konsumen disitu melayani keluhan konsumen.

” Perlu dicurigai, ada unsur sengaja diciptakan suasana begitu agar mendapatkan keuntungan.
Sasarannya yang tidak paham komplain atau tidak ada waktu komplain, itu menjadi target keuntungan bagi sindikat pelakunya .” ungkap Yanto. (red)

 

Pos terkait